Wisata Menara Eiffel Berbahan Bambu di Tengah Rawa Pening Semarang

Wisata Menara Eiffel Berbahan Bambu di Tengah Rawa Pening Semarang

Wisata Menara Eiffel Berbahan Bambu di Tengah Rawa Pening Semarang

Wisata Menara Eiffel Berbahan Bambu di Tengah Rawa Pening Semarang – Siapa bilang kalau mau berkunjung ke Menara Eiffel harus pergi ke Paris dulu. Anda bisa mengunjunginya tanpa paspor karena menara tersebut jadi objek wisata terbaru di Rawa Pening, Semarang.

Bukan dari metal, Menara Eiffel yang ini berbahan bambu petung. Material itu diperoleh dari wilayah Kabupaten Semarang, lokasi Radesa Wisata Desa Tuntang tempat menara didirikan.

Proses pembuatan menara kurang lebih memakan waktu delapan bulan. Banyak pihak yang terlibat, seperti tenaga ahli bambu, Bumdes Tuntang Sejahtera, PLN Peduli, pemuda karang taruna setempat, dan alumni pondok pesantren. Sebelum dibangun, eceng gondok yang banyak mengapung di Rawa Pening dibersihkan terlebih dulu.

Bambu dipilih yang berkualitas terbaik. “Bambu yang baik yang sudah melalui pengawetan, dipotong di hari tertentu, tidak cacat, tebal, dan diameter yang lebih dari rata-rata,” kata Didik.

Ia mengatakan Menara Eiffel dari Desa Tuntang dikerjakan dengan sistem panel. Dengan begitu, bagian yang rusak atau kurang baik bisa langsung diganti tanpa harus merubuhkan seluruh menara.

“(Ketahanannya) memang tidak lama. Jika perawatan baik, bisa 3–4 tahun,” ungkapnya.

Menara Eiffel bambu itu menjadi penambah daya tarik desa wisata yang dikelola warga setempat. Menara tersebut menjadi proyek pembuatan replika pertama yang dikerjakan. Ia berencana akan menambah replika lainnya di masa mendatang.

Paket Wisata

Wisatawan yang ke Menara Eiffel dari bambu sudah dibuka sejak Juli 2020 lalu. Pengunjung yang mau ke sana harus naik perahu dulu dari pinggir Rawa Pening.

Lewat mekanisme itulah, Didik mengklaim bisa mengatur agar jarak pengunjung tetap aman. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk keselamatan semua pihak yang berwisata di tengah pandemi.

“Jadi kalau sudah agak banyak, enggak kita jemput lagi, nunggu kosong. Tapi, kadang juga ada yang susah. Bagi yang enggak bawa masker, kita sediakan beli Rp5000. Enggak mau pakai ya terpaksa kita tolak masuk,” terang Didik soal protokol kesehatan di sana.

Di Radesa, fokus utama wisatawan adalah menikmati karya bambu dan keindahan alam rawa dan gunung-gunung yang mengelilingi 360 derajat serta menikmati hidangan ikan hasil tangkapan nelayan sekitar. Destinasi ini dibuka untuk wisatawan umum sementara pada pukul 8 pagi hingga 5 sore. Tetapi bila sudah pembukaan resmi, tempat tersebut akan dibuka hingga pukul 21.00 WIB.

“Kalau prewedding, dari jam 6 pagi sampai jam 8,” ujarnya.